Pertengahan tahun 2022, saya dan Zauji berjalan-jalan ke Kota Garut.
Garut menjadi salah satu kota yang sering kami kunjungi, terlebih di tahun
2022, salah satu destinasi wisata di Garut yaitu Situ Bagendit sedang dalam
proses mempercantik diri setelah dilakukan revitalisasi. Cerita Situ Bagendit
menjadi salah satu cerita penghantar tidur saat kecil dulu. Seperti apa ya
wajah barunya?
New Situ Bagendit
Dalam bahasa Sunda, ‘situ’ berarti danau. Situ Bagendit telah lama menjadi ikon pariwisata kota dodol alias Garut, salah satu kabupaten di Jawa Barat. Dilansir dari web kementerian Pekerjaan Umum, Situ Bagendit sejatinya merupakan danau alam yang menjadi kawasan lindung yang berfungsi untuk memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar daerah aliran sungai (DAS).Situ Bagendit terletak di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Akses jalan menuju Situ Bagendit mudah diakses dari arah Garut kota. Teman Menong dapat melalui Jalur Kadungora – Leles – Gobing lalu berbelok ke jalan KH Anwar Musaddad dan masuk ke Jalan Hasan Arif sebagai pintu utama dan tiba di Gate 3, Pos Nusa Kalapa.
Jalan KH. Hasan Arif, Banyuresmi mudah dilalui motor ataupun
mobil. Dua jalan utama lain berada di daerah Sukaratu dan Serut yang terletak di daerah pemukiman warga.
New Situ Bagendit memang baru diresmikan di bulan Agustus 2023 di era pemerintahan Ridwan Kamil sebagai gubernur Jawa Barat. Saat kami kunjungi di bulan Mei 2022, proses revitalisasi masih berjalan namun sudah nampak adanya perubahan terlihat dari fisiknya yang semakin cantik karena tertata rapi.
Tak lagi nampak kumuh, akses dan fasilitas umum semakin bertambah
memberikan kenyamanan bagi para pengunjung termasuk area parkir yang super luas yang bisa menampung banyak kendaraan termasuk bus wisata.
Danau Situ Bagendit memiliki luas 125 hektar yang dikelilingi Gunung Guntur, Gunung Putri, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray.
Kawasan wisata Situ Bagendit terletak di area seluas 2.8 hektar yang terbagi
menjadi enam zona yaitu zona 1 untuk wisata publik, zona 2 untuk kuliner dan zona 3 untuk area sekolah
hijau, zona 4 untuk komersil, zona 5 untuk area olah raga air dan zona 6 untuk
mesjid dan konservasi yang dibuka setiap hari dari jam 08.00 - 17.00 WIB.
Teman Menong dapat ber-selfie di beberapa
spot cantik termasuk jembatan atau menikmati jogging track
sepanjang 6 km. Tak lupa dengan amphitather yang berfungsi sebagai tempat
petunjukan atau pagelaran (saat kami berkunjung, amphiteather ini belum ada).
Tak hanya itu, New Situ Bagendit menyediakan banyak sarana bermain untuk anak-anak seperti kereta api mini di tepi danau, becak mini, kuda, scooter mini dan sepeda biasa yang dapat disewa dengan harga terjangkau.
Seperti hasil karya revitalisasi fasilitas umum lainnya di era Kang Emil, New Situ Bagendit juga dihiasi lampu unik berbentuk domba yang menjadi ikon kota Garut yang membuat saya semakin membayangkan keindahan desain megah ini bila sudah tuntas nanti.
Cerita Situ Bagendit
Garut menyimpan banyak hal unik. Selain lais, atraksi akrobatik yang telah diakui sebagai Warisan Benda Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2016, Garut juga menyimpan sebuah legenda yang dulu menjadi cerita di masa kecil kita.
Meski kaya raya, Nyai Endit terkenal dengan kekikirannya. Nyai Endit juga berprofesi sebagai tengkulak yang sering kali merugikan para petani di desanya. Nyai Endit juga sangat congkak karena tak mau membantu penduduk desa saat dilanda kesusahan. Bahkan di saat paceklik, Nyai Endit tetap melangsungkan pesta mewah.
Suatu hari, seorang pengemis tua datang meminta bantuan kepada Nyai Endit, namun dengan kesombongannya, Nyai Endit mengusir pengemis tersebut. Keesokan harinya, warga desa dihebohkan dengan desas desus temuan sebuah tongkat yang tertancap kuat di jalan desa. Meski banyak orang berusaha mencabutnya namun tak satupun warga yang berhasil.
Karena penasaran, Nyai Endit mendatangi jalan desa yang sudah dipenuhi warga. Di sana, Nyai Endit menemukan pula pengemis compang camping yang ia temui sehari sebelumnya. Karena kesal, Nyai Endit mengeluarkan sumpah serapah seraya mengusir pengemis tersebut. Ia menyalahkan pengemis atas tongkat yang tertancap kuat di jalan.
Tak dinanya, pengemis mengabulkan permintaan Nyai Endit dan sontak mencabut tongkat. Padahal tak ada seorang pun yang bisa mencabut tongkat sebelumnya. Anehnya, saat tongkat dicabut, air deras tersembur keluar dan dengan cepat merendam desa.
Semua warna serentak berbondong-bondong mengungsi dan meninggalkan desa. Hanya satu orang yang tetap bertahan yaitu Nyai Endit yang enggan meninggalkan rumahnya yang penuh dengan harta. Tak lama, air menenggelamkan desa dan mengubahnya menjadi danau.
Dari cerita ini nama Situ Bagendit berawal. Situ berarti danau dan Bagendit berasal dari nama Nyai Endit.
Healing di Situ Bagendit
Dari kisah Nyai Endit, saya dapat melihat luasnya situ dan keasrian area di sekelilingnya. Suasana yang masih sepi karena masih dalam suasana pandemi Covid 19 membuat saya dan Zauji tertarik menikmati keindahan new Situ Bagendit.Meluncur di penginapan yang terletak tak jauh dari kawasan Tarogong Kaler, Hotel Bintang Redannte, ditemani sepeda motor kesayangan, kami menikmati indahnya perjalanan menuju Situ Bagendit.
Kami tiba di Gate 3, Pos Nusa Kalapa dan membayar tiket resmi Rp. 10.000 untuk dewasa dan Rp. 5.000 untuk anak-anak. Pengelolaan Situ Bagendit memang diberikan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut yang bekerja sama dengan pihak ketiga dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Dari kejauhan teman Menong dapat melihat warga setempat yang menjalankan alat penangkap ikan tradisional. Warung terapung juga kini tersedia untuk melayani pengunjung menikmati ikan nila dan ikan gabus.
Meski jam masih menunjukan 8 pagi, matahari sudah terasa
hangat di kulit karena tak ada naungan bayangan pohon di sekitar situ. Karena minim pengunjung, kami menikmati indahnya pemandangan di
sekitar situ. Saya dan Zauji juga menyempatkan menaiki perahu keliling situ
diiringi angin sepoi-sepoi di antara riuh suara mesin perahu. Teman Menong juga dapat menaiki rakit bambu atau sepeda air untuk merasakan ketenangan air situ dengan harga Rp. 10.000 - Rp. 25.000 per orang (harga sewaktu-waktu dapat berubah ya!).
Eceng gondok dan teratai menutupi permukaan situ
membuat suasana menjadi eksotis menggantikan ‘kilauan permata peninggalan Nyai
Endit’ yang menjadi legenda turun temurun. Dengan membayar Rp. 40.000 untuk satu perahu tradisional (karena berisi dua penumpang saja yaitu saya dan Zauji), teman Menong bisa berkeliling situ dan menikmati area Situ Bagendit dari berbagai sudut.
Sambil menikmati perjalanan ini, saya membayangkan cerita Situ Bagendit yang sebetulnya fenomena alam yang terangkai menjadi cara sesepuh kita dahulu untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam.
Kami juga menyempatkan sholat di Mesjid Nusa Kalapa yang berada di tepian Situ Bagendit. Arsitekturnya yang unik melengkapi pesona situ. Sayangnya di lantai 2, banyak kotoran yang tersapu angin masuk melalui jendela.
Pemasangan paving block membuat jalan terasa lebih nyaman. Deretan penjual juga rapi. Sejauh mata memandang memang masih belum banyak pohon sehingga cuaca cukup panas menjelang siang. Ada beberapa referensi di internet, Pemkab Garut telah menetapkan aturan bagi pendirian bangunan di sekitar situ agar lebih tertata.
Meski banyak tempat yang bisa dijajal, termasuk gate lain yang jaraknya cukup jauh, kami menyudahi acara nga-bolang kami sebelum matahari merambat naik.
Cerita
Situ Bagendit dikemas menjadi kekinian untuk lebih menarik wisata di daerah
Garut selain kawasan Kamojang atau sentra kulit Sukaregang yang sudah lebih
dulu mendunia. Dan pastinya healing sederhana seperti ini bisa teman Menong
lakukan bila suatu saat nanti jalan-jalan ke Garut.
Bagus ya tempatnya. Keliatan rapi. Ada jogging tracknya juga. Kalau ada banyak pohon pasti lebih nyaman buat jalan-jalan di sana.
ReplyDeleteSitu Bagendit udah nggak asing di suku sunda, tapi aku baru tahu ceritanya nih. Ternyata berawal dari Nyi Endit yang sombong. Penasaran apakah masih ada harta atau peninggalan yg lainnya di danau yaa, wkwk.
ReplyDeletesemenjak jadi bloger, kalau pergi kemanapun berasa menjadi sebuah ide menarik yg bisa dikemas menjadi tulisan utk emngikat ya mbak. Situ Bagendit, dari sini sy jadi tahu sedikit tentangnya.
ReplyDeleteBetul sekali...sebagai catatan juga kalau sewaktu2 diperlukan
Deletesepertinya asik ini mbak tempatnya, cocok buat healing sambil berolahraga biar badan fit
ReplyDeleteWah bagusnya Situ Bagendit, sudah dikelola dengan baik ya jadi semakin bagus dibadingkan sebelumnya, HTMnya pun terjangkau
ReplyDeleteDapat referensi kalau mau main ke Garut, asik
Sudah dengar kisah situ bagendit tapi belum kesampaian buat main ke tempatnya langsung, adem banget suasananya disana ya walau kisahnya lumayan bikin tamparan buat yang pikirannya cuma harta aja
ReplyDeleteGarut memang menyimpan banyak tempat-tempat indah ya. Dan aku pun ketika masih kecil juga sering diceritakan tentang cerita situ bagendit ini. Dulu hanya membayangkan tanpa ada gambar yang sebenarnya, sekarang sudah bisa melihat secara nyata. Situ Bagendit emang makin cantik setelah 'bersolek'. Update setelah setelah full revitalisasi mbak.
ReplyDeleteMasyaAllah, Situ Bagendit sekarang beda banget penampakannya. Luar biasa, jadi serba kekinian di tangan sewaktu kang Emil menjabat Gubernur Jabar ya ini diperbaikinya. Makin estetis dan makin tertata.
ReplyDeleteSudah lama sekali belum ke Garut. Terakhir masih berupa danau dengan banyak perahu nelayan saja. Sekarang benar-benar menjadi salah satu destinasi wisata yang harus masuk list ya
Iya keren banget...saya juga ga terpikir bakal sebagus ini
DeleteSuami saya asli orang Banyuresmi. Paling enak ke sana itu sore-sore. Saat matahari sudah tidak terlalu terik dan tempatnya pun sudah mulai lengang.
ReplyDeleteWaah, asyik banget ya kalau keliling naik sepeda gitu. Kayaknya lumayan luas ya mba kalau harus jalan kaki hehehe
ReplyDeleteWaaah, asyik nih bisa main ke Situ Bagendit kalau pas traveling ke Garut :) Ternayta tiket masuknya termasuk murah ya, 10K dan 5K aja. Naik perahu 40K berdua memutari danau. Kalau weekend kayaknya ramai ya, apalagi buat keluarga dan pasangan cocok tuh. Berasa piknik pastnya ya hehe yang penting semua pengunjung harus membuang sampah pada tempatnya.
ReplyDeletePernah denger cerita ini waktu SD dan baru tahu asal usulnya setelah baca artikel. Hampir sama kaya cerita baru klinting yang menancapkan tongkatnya.
ReplyDeleteBetul, memang ada kemiripan mungkin karena pesan moral nya yang sama
DeleteKeren banget, situ yang dikelilingi banyak gunung. Ada legenda nya juga. Suatu saat semoga bisa sampai sana. Terimakasih sudah berbagi .
ReplyDeleteAku pertama kali dengar cerita legenda situ bagendit ini pas sekolah SD, lupa kelas berapa. Dulu ada di buku kumpulan legenda nusantara seingatku. Nggak nyangka tempatnya bagus ya, apalagi sudah direvitalisasi. Semoga semakin maju wisata situ bagendit ini dan tetap terjaga kelestariannya..
ReplyDeleteBetul sekali...sama sekali tidak terpikir kalau cerita legenda itu memang ada riil tempatnya...dan cantik pula
DeleteCerita tentang Situ Bagendit emang sangat terkesan, ya, Mba. Sejak zaman SD, hehehe. Seru banget kayaknya bisa ke tempat yang sudah jadi cantik seperti ini, ya, Mba :)
ReplyDeleteKeren yaa, bisa lebih tertata begitu. Jabar ini termasuk yang pilihan wisatanya beragam dan bagus-bagus semua deh kayanya.
ReplyDeleteWah cukup rapi dan bersih ya mba. Aku sering dengar nama tempat ini sedari kecil tapi belum pernah ke sana. Seru ini buat sekadar duduk-duduk sambil menghirup udara segar. Pasti chill dan fresh banget, sudah kebayang wkwk
ReplyDeleteah, jadi inget mapel bahasa Indonesia dulu. dari atas bagus banget ya mba, jadi inget palm island.
ReplyDeletenew situ bagendit kayanya cocok untuk liburan keluarga, semoga tetap terjaga rapi dan kebersihannya